Loading...
You are here:  Home  >  Tanya-Jawab  >  Current Article

Warisan untuk anak angkat

By   /   July 27, 2012  /   No Comments

Ilustrasi HartaNama: smith

Domisili: gudang peluru

Pesan: assalamualaikum pak ustad, ceritanya waktu ibu(ibu mertua=ibu[red]) saya kecil, beliau sempat diasuh, atau kasarannya diangkat anak oleh uwa-nya. waktu uwa masih ada(hidup) uwa pernah mendeklarasikan(secara lisan saja) bahwa ibu saya kelak juga akan dapat warisan tanah, itu juga diketahui oleh anak kandung uwanya. berjalan dengan waktu, sampai sekarang, uwa ibu saya pun  telah meninggal, anak kandungnya pun sudah meninggal, ibu saya tidak tahu apakah cucu2 uwa ada yang disampaikan perihal ‘jatah’ ibu saya tadi. sebenarnya sih, ibu saya juga sudah mengikhlaskan, cuma sekedar pikiran yang ‘menggelitik’. kira-kira sekian saja. terima kasih sebelumnya pak ustadz.

Jawab :

Dalam hal ini kekuatan hukum ibu mertua anda sangatlah lemah, ditinjau dari 2 sisi :

1. Beliau bukanlah ahli waris langsung dari uwa’nya. Ahli waris adalah orang-orang yang berhak menerima peninggalan harta serta mempunyai hubungan darah langsung dengan orang yang meninggal sebagaimana firman Allah sebagai berikut :

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun”

(An-Nisaa : 11-12)

2. Ibu mertua anda tidak memiliki bukti otentik atas wasiat yang diberikan oleh uwa’ nya (tertulis), kecuali hanya pernyataan secara lisan. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya untuk menuliskan wasiat.

Dari Ibn Umar : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Seorang muslim yang ada padanya sesuatu yang hendak ia wasiatkan, tidak sepatutnya ia bermalam selama dua malam kecuali hendaklah ada wasiatnya yang tertulis di sisinya” (Muttafaq ‘alaih)

Orang yang hendak diberikan wasiat hendaklah bukan ahli waris, dan bagiannya tidak sama dengan ahli waris. Maksimal harta yang boleh diwasiatkan adalah sepertiga dari seluruh harta orang yang berwasiat.

Dari Sa’ad bin Abi Waqash, ia berkata : “…………… Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”(Boleh) sepertiga, tetapi sepertiga itupun sudah banyak, karena sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin, meminta-minta kepada manusia” (Muttafaq ‘alaih)

Menuliskan wasiat memang tidak diwajibkan, namun hal tersebut jelas memberikan banyak manfaat baik bagi yang berwasiat maupun bagi yang diwasiatkan. Cobalah untuk mengutarakan maksud Ibu anda kepada anak-anak uwa’nya, mana tahu mereka akan mengerti dan memberikan sebagian dari harta itu kepada ibu anda.

wAllahul musta’an

 

    Print       Email

About the author

General Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also like...

Rukun Shalat

Jama’ – Qashar

Read More →