RAMADHAN, BULAN 'PERUBAHAN' PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 05 Oktober 2009 12:15

“Nak Mas jadi mudik nanti sore….?” Tanya Ki Bijak.

 

“Insya Allah jadi ki……., tidak terasa ya ki, rasanya baru kemarin kita memasuki ramadhan, sekarang ‘tiba-tiba’ kita sudah sampai dipenghujungnya…..” Kata Maula.

 

“Ya Nak Mas, ramadhan demi ramadhan kita lalui, dan entah berapa kali lagi kita akan dipertemukan Allah dengan ramadhan berikutnya.., yang harus menjadi konsen kita, sejuah mana ramadhan yang telah kita lalui ini ‘merubah’ kita menjadi seseorang yang lebih baik dari ramadhan berikutnya…..” Kata Ki Bijak.

 

“Ana masih belum paham ki…” Kata Maula.

 

“Nak Mas masih ingat diskusi kita beberapa waktu lalu mengenai nilai shaum ramadhan…?” Tanya Ki Bijak.

 
 

“Iya ki, shaum ramadhan , yang secara syar’i didefinisikan sebagai ibadah dengan syari’at ‘menahan diri’ dengan niat dari seluruh yang membatalkannya, seperti makan dan minum, dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, memiliki setidakyal dua nilai, yang pertama nilai formal, yang menurut nilai ini, seseorang dikatakan telah melaksanakan shaum apabila ia tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan suami istri dari terbit fajar sampai terbenam matarhari……” Kata Maula.

 

“Lalu…..?” Pancing Ki Bijak.

 

“Nilai yang kedua, yang menjadi parameter sah tidaknya shaum, ditinjau dari segi fungsinya, yaitu menjadikan manusia bertakwa; sebagaimana Allah terangkan dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang mashur itu;

183.  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

 

 

“Rasyid Ridha berpendapat bahwa dengan nilai ini, shaum bermakna sebagai sarana Tarbiyatul lil iradat – Pendidikan atas keinginan…..” Kata Maula lagi.

 

“Nak Mas tahu kenapa keinginan kita harus dididik…?” Tanya Ki Bijak sebelum Maula melanjutkan jawabannya;

 

“Karena keinginan, kemauan, cita-cita, hasrat atau harapan merupakan fitrah kita sebagai manusia ki, tapi dalam perjalanannya, acapkali keinginan-keinginan itu menyimpang, karena berbagai pengaruh, salah satunya adalah pengaruh dari dalam diri manusia itu sendiri yang menurut Imam Al Ghazali memiliki sifat-sifat Syaitoniyah, sifat-sifat setan, sifat bahimiyah, sifat kehewanan, seperti rakus dan serakah, serta sifat Sabaiyah, sifat kekejaman dan kedzaliman, selain sifat rububiyah ketuhanan yang mendorong seseorang untuk berbuat baik, jadi Tarbiyatul lil iradah disini adalah ‘mendidik’ atau mengarahkan keinginan itu untuk tetap berjalan diatas sifat rububiyah manusia, dengan cara mengekang dan mengendalikan ketiga sifat ‘jahat’ yang lain…..” Kata Maula.

 

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula yang sangat lancara, “Syukurlah Nak Mas masih ingat…., lalu fungsi berikutnya Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak lagi.

 

“Fungsi berikutnya adalah Thariqatul Lil Malaikat, artinya pendidikan keta’atan atau kepatuhan sebagaimana kepatuhan para malaikat, dengan shaum ini, manusia diarahkan dan dibentuk untuk menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya, dengan menjalankan seluruh perintah_Nya dan menjauhi larangannya…..”

 

“Kemudian shaum juga berfungsi untuk Pendidikan Ketuhanan’ atau Tarbiyatul Lil Ilahiyah, dalam arti bahwa shaum mendidik sifat-sifat rububiyah manusia agar dapat meneladani sifat-sifat Allah, seperti berbuat adil, kasih sayang, penyabar, pemaaf, pemberi dan lain sebagainya….”

 

“Dan Ibnu Qoyyim Al Jauzi menambahkan bahwa shaum ramadhan juga berfungsi sebagai Tazkiyat an nafsi – penyucian jiwa manusia, dengan cara mengekang sifat-sifat buruk yang berada dalam diri manusia, dan kemudian memunculkan sifat-sifat luhur manusia sesuai dengan fitrahnya……” Kata Maula.

 

Ki Bijak lagi-lagi tersenyum mendengar penuturan Maula; “Subhanallah, ingatan Nak Mas sangat bagus…, dan setelah apa yang tadi Nak Mas utarakan, ada satu pertanyaan lagi yang harus kita jawab, apakah ramadhan-ramadhan yang sudah kita lalui sudah berhasil mendidik iradah kita, apakah ramadhan-ramadhan yang telah kita lalui sudah berhasil mendidik kita menjadi manusia yang taat pada Allah, apakah kemudian ramadhan-ramadhan yang telah kita lalui telah membentuk kita sebagai pribadi yang sabar, santun, lembut, berkasih sayang, pemaaf dan sudahkah jiwa dan diri kita ini bersih dari sifat-sifat buruk kita…?”  Kata Ki Bijak.

 

Maula terdiam, ia seperti sedang melihat kedalam dirinya, adakah ramadhan yang selama ini telah dilaluinya telah membentuknya menjadi manusia yang berbeda, menjadi manusia yang lebih baik…….?, sekian lama Maula terdiam, ia belum berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti yang Ki Bijak utarakan, adakah perbaikan dalam dirinya….?.

 

“Ki……bisakah kita melihat dalam diri kita perbaikan apa saja yang seharusnya dalam diri kita setelah ramadhan….?” Kata Maula sejurus kemudian.

 

“Perubahan itu bisa kita lihat Nak Mas, atau setidaknya kita rasakan….perubahan yang pertama ialah adanya peningkatan kualitas iman dalam diri kita, shaum ini mengajarkan kepada kita untuk meyakini  bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, sehingga kita tetap menjaga shaum kita, meskipun tidak ada orang lain yang tahu kalau kita makan dan minum misalnya, itu ada ‘pupuk’ dan latihan bagi peningkatan keimanan kita…,

 

“Kedua, adanya peningkatan kualitas ibadah, selama ramadhan kita ditarbiyah untuk lebih banyak tadarus dan tadabur al qur’an, menghidupkan dan meningkatkan amal-amalan sunnah serta menyempurnakan yang wajib, shalat tarawih, tauziah dan lainnya, semuanya dimaksudkan agar kelak, selepas ramadhan, kita bisa menanamkan apa yang kita pelajari selama ramadhan dalam kehidupan keseharian kita….:

 

“Ketiga adanya peningkatan kualitas mental kita serta keempat terbentuknya proteksi dalam diri kita terhadap hal-hal yang dilarang Allah…..” Kata Ki Bijak.

 

“Kemudian kualitas mental dapat kita lihat dari bagaimana ketahanan kita dalam menjalani dan menghapapi kehidupan ini, selama ramadhan kita sudah dengan lapar, dengan haus, dengan menahan amarah, dengan mengendalikan perkataan dan perbuatan…., harusnya setelah ramadha kita menjadi manusia yang lebih tangguh, manusia yang sabar, manusia yang mampu menguasai diri dan seterusnya…..

 

“Dan yang tidak kalah penting, orang yang shaumnya berhasil, akan memiliki filter, akan memiliki saringan, akan memilik proteksi diri terhadap hal-hal yang dilarang Allah…., seorang ulama menta’wilkan kata taqwa dengan kata Itiqa, yakni adanya proteksi diri, yang akan menyelamatkannya dari serangan berbagai kemunkaran disekitar kita…” Kata Ki Bijak panjang lebar.

 

“Ki,dari uraian Aki tadi, kalau boleh ana sedikit menyimpulkan, ‘keberhasilan’ ramadhan justru diukur selepas ramadhan itu sendiri ya ki….” Kata Maula.

 

“Benar Nak Mas, seperti kita mengecor lantai atau tiang sebuah bangunan, kualitas tiang dan lantai itu diukur bukan pada saat bougesting dan kolom cor serta tiang-tiang penyangganya  masih terpasang, kualitas tiang dan lantai itu diukur setelah semuanya dilepas…, pun demikian dengan shaum kita Nak Mas, kualitas atau berhasil tidaknya shaum kita akan terlihat pasca ramadhan dan disebelas bulan berikutnya, apakah bertambah, apakah tetap atau justru karena satu dan lain hal terjadi penurunan kualitas kita……” Kata Ki Bijak lagi.

 

“Iya ki, insya Allah ana akan selalu ingat nasehat Aki, dan apa yang Aki wejangkan barusan, menjadi bekal paling berharga sebelum ana pulang kampung sore nanti…., Ki ana boleh meminta sesuatu sebagai ‘hadiah’ hari raya ini….? Tanya Maula.

 

“Insya Allah jika Aki memang memiliki apa yang Nak Mas minta itu……” Kata Ki Bijak sambil menatap wajah Maula.

 

“Ki, ana hanya minta hadiah untuk dibukakan pintu maaf dari Aki sekiranya selama ana belajar disini, ana banyak melakukan kesalahan, mungkin ada perkataan dan perbuatan ana yang kurang berkenan dihati Aki, ana mohon dimaafkan ya ki…..” Kata Maula.

 

Ki Bijak tersenyum lebar mendengar permintaan Maula; “Nak Mas…., sebelum Nak Mas meminta pun Aki insya Allah sudah memaafkan, itu pun kalau ada, sebaliknya Aki juga meminta Nak Mas untuk membukakan pintu maaf jika ada kata-kata Aki yang kurang berkenan…., semoga dengan saling memaafkan ini, Allah akan menggugurkan dosa dan salah kita ya Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

 

“Amiin….,juga untuk ihwan dan ahwat semua; ana mohon dibukakan pintu maaf jika ada perkataan dan perbuatan ana yang tidak elok ya ……” Kata Maula para santri lainnya.

 

Para santri menyambut uluran tangan Maula dengan hati penuh, mereka saling bersalaman, bermaaf-maafan dengan penuh harap bahwa Allah akan menghapuskan dosa mereka semua selepas ramadhan ini.

 

Wassalam;

 

 

Kirim Komentar


Security code
Refresh