| Pengantar Ilmu Musthalah Hadits (bagian 2) |
|
|
|
| Oleh Administrator |
| Rabu, 14 Oktober 2009 15:15 |
|
AR-RIWAYAT
Riwayat artinya : Menceritakan, mengabarkan, cerita, kabar. Maksudnya, kabar yang berisi ucapan, perilaku atau lainnya yang diceritakan oleh shahabah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, baik kabar itu benar ataupun tidak benar berasal dari shabah tersebut. Kabar yang menurut pemeriksaan benar asalnya dari shahabah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam disebut Riwayat Shahih. Kabar yang menurut pemeriksaan tidak benar atau belum tentu asalnya dari shahabah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam disebut Riwayat Dha’if.
Contoh Riwayat Shahih : Dari ‘Aisyah ra, dia berkata : “Aku pernah menyisir (rambut) Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, padahal aku sedang haid” (HR. Bukhari)
Kabar ini kita namakan riwayat, karena ia mengandung perjalanan seorang shahabah (istri) Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, yaitu ‘Aisyah ra. Riwayat ini setelah diperiksa ternyata benar datangnya dari ‘Aisyah ra, karena orang-orang yang menceritakannya semua adalah orang-orang yang terpercaya dan tidak ada seorangpun diantara mereka yang tercela hingga akhirnya tercatat didalam kitab Bukhari.
Contoh Riwayat Dha’if : Dari Rabi’, ia berkata : “Aku pernah hadir bersama Ibnu ‘Umar pada satu jenazah, lalu aku mendengar suara orang berteriak. Maka Ibnu ‘Umar mengutus orang kepadanya untuk menyuruh orang tersebut diam. Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar : “Yaa Aba Abdirrahman, mengapa engkau suruh orang itu diam?”, Ia menjawab : “Sesungguhnya dengan teriakan itu si mayyit terasa sakit, hingga dia dimasukkan kedalam kuburnya” (HR. Ahmad)
Kabar diatas kita namakan riwayat karena ada cerita atau pembicaraan yang dikatakan seorang shahabah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, yakni Ibnu ‘Umar ra. Namun setelah diperiksa, ternyata riwayat ini lemah (atau dha’if) karena diantara orang-orang yang menceritakannya, terdapat seseroang yang tidak diterima ucapannya oleh para ‘ulama, yakni Abu Syu’bah ath-Thahhan (lihat Lisanul Mizan 6:394). Namun demikian, kabar diatas tetap disebut Riwayat, namun Riwayat Dha’if.
PENERANGAN (tentang nama-nama Sanad)
Sebelum masuk kedalam pembicaraan pasal-pasal yang akan dating, hendaklah terlebih dahulu kita mengenal beberapa perkataan yang berhubungan dengannya, agar mudah memahami keterangan-keterangan di pasal-pasal tersebut. Untuk itu, berikut saya kutipkan satu hadits dari kitab ‘Shahih Bukhari’, bab Pertama (Kitab Iman) :
Imam Bukhari berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi ‘Abdullah bin Zubair, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id al-Anshari, ia berkata : Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, bahwa ia mendengar Alqamah bin Waqqash al-Laitsi berkata : aku telah mendengar Umar Ibnu’l Khaththab ra berkata diatas mimbar : Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda : “Sesungguhnya amal itu bergantung kepada niat” (HR. Bukhari)
Dari hadits ini, kalau kita susun orang-orang yang menceritakannya, dari mulai Imam Bukhari sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, akan terlihat seperti ini : Bukhari Keterangan : Dari perkataan “telah menceritakan” yang dipermulaan hadits tersebut sampai dengan perkataan “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda” dinamakan Sanad, atau Musnad atau Isnad. |





Komentar