Pengantar Ilmu Musthalah Hadits (bagian 1) PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Rabu, 07 Oktober 2009 09:19

ILMU HADITS

 


 


Ilmu Hadits ialah : Satu ilmu yang dengannya dapat diketahui betul tidaknya ucapan, perbuatan, keadaan atau lainnya, yang orang katakan bahwa itu berasal dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam.

 


NAMA-NAMA ILMU HADITS


Ilmu, adalah salah satu dari Ilmu-Ilmu agama kita. Didalamnya ada beberapa bagian dan cabang sebagaimana yang akan terlihat dari pasal-pasal yang akan kami terangkan. Maka sebagian daripada bagian-bagian dan cabang-cabang itu, teranggap sebagai satu pokok yang tersendiri.

Karena itu, timbullah beberapa nama bagi Ilmu Hadits, diantaranya :

Ilmu Musthalah Hadits
Musthalah artinya : Kebiasaan yang terpakai dalam satu ilmu. Maksud nama tersebut : Ilmu yang menerangkan kebiasaan-kebiasaan yang terpakai bagi hadits-hadits. 
 


Ilmu Isnad
Isnad artinya menyandarkan. Maksudnya : Ilmu yang membicarakan hadits-hadits yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam

Ilmu Riwayatil Hadits
Maksudnya : Ilmu meriwayatkan atau menceritakan hadits-hadits.

Ilmu Dirayatil Hadits
Dirayah artinya : mengetahui. Maksudnya adalah : Ilmu untuk mengetahui bagaimana kedudukan hadits-hadits.

Ilmu Atsar
Karena perkataan atsar itu artinya : Hadits, maka ilmu atsar maksudnya Ilmu Hadits

Ilmu Musthalah Ahlil Atsar
Maksudnya : Ilmu yang membicarakan kebiasaan-kebiasaan yang dipakai oleh ahli hadits

 


PENGATUR ILMU HADITS


Yang pertama kali menyusun atau mengatur Ilmu Hadits adalah : Al-Qadli Abu Muhammad ar-Rama-Hurmuzy, seorang alim negeri Khuzustan (Persi), wafat tahun 260H (lihat kitab ‘Ma’rifat ‘Ulumil Hadits). Nama lengkap beliau adalah : Abu Muhammad Hasan bin Abdirrahman bin Khalad ar-Rama-Hurmuzy.

 


BAGIAN ILMU HADITS


Ilmu hadits terbagi dua, yakni :

Pertama : Ilmu Hadits Dirayatan

Kedua : Ilmu Hadits Riwayatan


Ilmu Hadits Dirayatan

Dirayatan artinya : Mengetahui. Maksudnya : Ilmu Hadits tentang mengetahui, yakni, satu ilmu yang mempunyai beberapa qa’idah (patokan), yang dengan qa’idah2 tersebut dapat kita ketahui :

Hal sanad (jalan hadits dari pencatatnya sampai kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam), yakni sah atau tidaknya, tinggi martabatnya atau tidaknya (Lihat kitab ‘Minhatul Mughiets).
Hal Matan (lafazh-lafazh Hadits), yakni sah atau tidaknya, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam atau bukan.
Cara pencerita menerima kabar dari seseorang
Cara pencerita menyampaikan apa yang dia dengar
Sifat-sifat orang yang menceritakan
Dan lainnya yang berhubungan dengan itu, yang mana akan tersebut kemudian dalam bab ‘Macam-Macam’ di kitab ini.
Ilmu untuk mengetahui apa yang tersebut itulah yang biasa dinamakan Ilmu Musthalah Hadits.


Ilmu Hadits Riwayatan

Artinya Ilmu Hadits tentang meriwayatkan, yaitu, satu Ilmu yang mengandung pembicaraan tentang mengabarkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, perbuatan-perbuatan beliau, hal-hal yang beliau benarkan, atau sifat-sifat beliau sendiri (lihat kitab ‘Minhatul Mughiets’)

Ringkasnya : Ilmu Hadits Dirayatan itu untuk enetapkan sah atau tidaknya sesuatu yang orang katakana berasal dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, sedangkan Ilmu Hadits Riwayatan adalah menceritakan apa yang sudah kita tetapkan dari jalan dirayatan tadi.

 

 

AL-HADITS


Hadits artinya : Yang Baru, Kabar/Berita.

Hadits dalam istilah ahli hadits ditujukan kepada : “Kabar/Berita yang berisi ucapan, perbuatan, kelakuan, sifat, atau kebenaran, yang orang katakana dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, maupun kabar/berita itu sah dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam atau tidak”.

Hadits disebut juga sunnah, kabar atau atsar. Namun kerapkali, yang mengandung sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam saja yang dikatakan Hadits.

Hadits yang menurut pemeriksaan, benar datangnya dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dinamakan oleh ‘ulama sebagai “Shahih” atau “Sah”. Hadits yang menurut pemeriksaan, tidak benar atau belum tentu datangnya dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dinamakan oleh ‘ulama sebagai “Dha’if” atau “Lemah”.


Contoh Hadits shahih :

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam : ‘Engkau akan dapati sejahat-jahat manusia pada hari kiamat disisi Allah, yakni orang yang bermuka dua, yaitu orang yang dating kepada satu golongan dengan satu muka, dan kepada golongan yang lain dengan satu muka (yang lain)’

(HR. Bukhari)


Hadits ini kita katakana ‘shahih’ atau benar ucapan Rasulullah shallallhu ‘alayhi wasallam karena orang-orang yang menceritakannya semua kepercayaan, tidak ada yang tercela.


Contoh hadits dha’if :

Dari Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, beliau bersabda : ‘Tidak boleh perempuan haid dan tidak boleh perempuan nifas membaca satu ayatpun dari Al-Quran’

(HR. Daruquthni)


Kabar ini kita katakana hadits, karena ada ucapan yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Setelah diperiksa, ternyata hadits ini terdapat kelemahannya karena diantara orang-orang yang meriwayatkannya ada seorang yang oleh ‘ulama hadits dianggap suka memalsu hadits, namanya : ‘Muhammad bin Al-Fadh’ (lihat Tahdzibuttahdzib).

Dalam ilmu hadits, kabar tersebut tetap bisa dikatakan hadits, walaupun lemah. Jadi, yang sebenarnya lemah itu, bukan sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam melainkan kabar/berita yang orang katakan dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, padahal bukan dari beliau atau belum tentu itu merupakan sabda beliau.

 

 

 

Kirim Komentar


Security code
Refresh