Mengapa Abu Bakar menjadi khalifah? PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Senin, 30 November 2009 22:06

Nama: ika firmansyah
Domisili: palembang
Pesan:   mengapa pada waktu rasul meninggal abu bakar terpilih sebagai khalifah bukankah   rasul menyuruh ali sebagai khalifah mohon penjelasan  

 

 

Jawab :

Tidak ada ayat maupun hadits yang secara tegas menetapkan ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sesudah wafatnya. Memang ada sebuah hadits yang terkenal sebagai hadits “Ghadir Khum”. Namun matan hadits tersebut pun masih diperdebatkan maknanya, karena tidak secara tegas menetapkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk ‘Ali radhiAllahu ‘anhu sebagai penggantinya bila beliau wafat. Hadits tersebut menetapkan ‘Ali merupakan wali orang muslim dan bahwa ‘Ali adalah orang yang utama dalam ilmu dan amalnya.

Dalam hal ini, kami tidak ingin berpolemik. Cukuplah kami tunjukkan dalil-dalil atas keutamaan Abu Bakr dalam AL-Quran dan hadits :

 

“…Tidak sama diantara kamu orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sebelum penaklukan Makkah. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sesudah itu. Alloh menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik…”

(Al-Hadid : 10)

 

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengiktui mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”

(At_Taubah:100)

 

“Juga bagi para fuqaha yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Alloh dan mereka yang menolong Alloh dan rosulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang menempati kota madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum kedatangan mereka (muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka yang tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (muhajirin); dan mereka yang mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu, dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(Al-Hasyr:8-9)

 

 

Shahih Muslim dalam bab “Larangan mencaci para sahabat Nabi dan keutamaan mereka atas generasi berikutnya”, antara lain:

RosuluLLoh sholAllohu ‘alaihi wasalam bersabda:”Janganlah kamu sekalian mencela para sahabatku dan janganlah kamu sekalian mencela para sahabatku, demi jiwaku yang ada dalam kekuasaanNya, seandainya salah seorang dari kamu menafkahkan emas sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan mencapai satu mud-pun dari kebaikan salah satu dari mereka, apalagi separuh kebaikan mereka”.

 

RosuluLLoh sholAllohu ‘alaihi wassalam bersabda :” Sesungguhnya orang yang paling setia menemaniku adalah Abu Bakr, andaikata aku mau mengambil seorang khalil (teman setia), niscaya Abu Bakr menjadi khalilku, namun dia hanya sebagai saudara sesama muslim. Di Masjid Nabawi tidak ada lagi satu ruangan selain ruangan Abu Bakr”. (Muttafaq ‘alaih)

 

Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Usman : Saya mendapat khabar dari Amr bin Ash bahwa RosuluLLoh sholAllohu ‘alaihi wasalam mengutusnya dalam peperangan Al Salasil, lalu aku mendatanginya dan bertanya :”Siapa orang yang paling engkau cintai?”, beliau menjawab “’Aisyah”, saya bertanya lagi “Dari kaum lelaki?” Beliau menjawab :”Ayahnya”. Aku bertanya kembali:”kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab “Umar”, maka beliau  menyebutkan nama sahabat yang lainnya setelah Umar.

 

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Ibn Abbas rodhiAllohu anhu, ia berkata : Jenazah Umar bin Al Khaththab diletakkan diatas tempat tidurnya (setelah wafat karena terbunuh), lalu dikerumuni umat manusia yang mendoakan, memuji, dan mensholatinya sebelum jenazahnya diusung. Saya (Ibn Abbas) berada diantara mereka dan saya dikejutkan oleh seorang yang memegang pundakku dari belakang, maka aku menoleh ternyata dia adalah Ali. Beliau merasa iba terhadap Umar lalu berkata (kepada jenazah Umar) : “Kamu tidak meninggalkan seorangpun yang lebih dicintai daripada berjumpa dengan Alloh dan orang yang beramal seperti amalmu. Demi Alloh ! Kalau menurut perkiraanku, Alloh pasti akan menjadikanmu seperti kedua sahabatmu (Nabi dan Abu Bakr), karena saya sering mendengar beliau (Nabi sholAllohu ‘alaihi wasalam) bersabda: “Saya, Abu Bakr dan Umar datang…. Saya, Abu Bakr dan Umar masuk… Saya, Abu Bakr dan Umar keluar…..”,   Jadi, kalau saya mengira dan saya berharap, kamu akan ditempatkan bersama mereka berdua.”

 

 

Demikian sebagian dari dalil-dalil tentang keutamaan Abu Bakr dan sahabat lainnya. Semoga dapat dipahami.

 

wAllahu a’lam bi shawwab.

 

Komentar 

 
0 #2 fulan 2011-10-07 08:55
Quote
 
 
0 #1 Sasando 2011-06-16 00:31
Quote
 

Kirim Komentar


Security code
Refresh